ABSTRAK
Pembangunan
fisik perlu diimbangi dengan pembangunan moral. Salah satu cara pembangunan
moral terhadap generasi muda adalah melalui pendidikan karakter yang
dilaksanakan di lembaga Sekolah. Tujuannya adalah mengungkapkan model penanaman
nilai-nilai pendidikan karakter yang telah dianalisis nilai-nilai karakternya,
RPP dan Silabus, metode penanaman oleh guru, media pembelajaran berbasis
karakter dan evaluasi penanaman nilai-nilai pendidikan karakter. Pengembangan
dan penanaman nilai-nilai pendidikan karakter di juga dilakukan melalui
penyediaan fasilitas seperti tempat ibadah, laboratorium bahasa dan budaya
serta Pusat Sumber Belajar yang baik serta ditunjang dengan berbagai program
sekolah mulai dari ekstra kurikuler, pengembangan budaya sekolah.
Pendidikan karakter di Wilayah Kota sudah
mulai diintegrasikan dalam kurikulum dihampir semua jenjang pendidikan, namun
di sisi lain pemahaman dan penguasaan guru terhadap konsep pendidikan karakter
perlu ditinjau lebih lanjut. guru belum memahami hakikat tentang konsep
pendidikan karakter. Muatan nilai-nilai karakter yang terdapat dalam
pembelajaran pada saat melakukan kegiatan pembelajaran meliputi; nilai Disiplin
(discipline), Rasa hormat dan perhatian (respect), Tekun (diligence), Tanggung
jawab (responsibility), Dapat dipercaya (trustworthiness), Berani (courage),
Ketulusan (honesty), Inegritas (integrity), Peduli (caring), Jujur (fairness),
Kewarganegaraan (citizenship), Ketelitian
Mendeskripsikan pemahaman guru tentang konsep pendidikan
karakter, nilai karakter yang di utamakan, serta fasilitas yang dibutuhkan dalam
pelaksanaan pendidikan karakter disekolah digunakan metode deskriptif kualitatif
sehingga data dianalisismelalui pengumpulandata. Nilai yang dikembangkan yaitu nilai religius, peduli lingkungan, semangatkebangsaan, demokratis, komuniktif, toleransi, mandiri, peduli sosial dan cinta damai. Fasilitas sekolah belum menunjang pengembangan pendidikan karakter sehingga perlu diupayakan pembenahan diantaranya adalah mushalla, saluran pembuanganair,
media komunikasi dan informasi elektronik, ruang kesenian, wcdan air bersih.
Kata Kunci:
Pendidikan, Kebutuhan,Karakter
PENDAHULUAN
Pendidikan karakter
sebaiknya dapat dilaksanakan pada semua jenjang pendidikan di sekolah namun di jenjang sekolah dasar pendidikan
karakter haruslebih diutamakan
M. NUH mengatakan bahwa
"Pendidikan karakter harus dimulai dari SD karena jikakarakter tidak
terbentuk sejak dini maka akan susah untuk merubah karakter seseorang”.
Pendidikan karakter anak sebenarnya bukan hanya tanggung jawabsekolah melainkan
orang tua di rumah yang juga memiliki peranan penting.Keluarga merupakan
sekolah pertama bagi anak namun kenyataanya orang tua dirumah terlalu sibuk
dengan pekerjaan dan urusan mereka masing-masing
sehingga perkembangan pendidikan karakter anaknya kurang diperhatikan dan sebagian besar
orang tua di rumah melimpahkan pendidikan karakter anaknya kepada pihaksekolah.
Hal tersebut merupakan alasan mendasar sekolah sebagai sarana pendidikan formal dijadikan wadah pembentukan karakter anak sehingga disekolah
guru harus lebih intensif dalam membentuk karakter peserta didiknya
agaranak-anak tersebut mampu membentuk Indonesia sebagai bangsa
yang berkarakter di masa yang akan dating
Menurut Suyanto (2009: 1)
Pendidikan karakter adalah pendidikan budi pekerti plus, yaitu yang melibatkan
aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action).
Menurut Thomas Lickona tanpa ketiga aspek ini pendidikan karakter tidak akan
efektif. Pendidikan karakter menurut Jamal Ma’mur Asmani (2011: 31) adalah
segala sesuatu yang dilakukan oleh guru untuk mempengaruhi karakter peserta
didik. Guru membantu dalam membentuk watak peserta didik dengan cara memberikan
keteladanan, cara berbicara atau menyampaikan materi yang baik, toleransi, dan
berbagai hal yang terkaitnya. Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman
nilai- nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan,
kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut,
baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan,
maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil (Prasetyo dan
Rivasintha, 2011: 2). Nilai-nilai pendidikan karakter yaitu yang bersumber dari
agama, Pancasila, budaya, dan tujuan pendidikan nasional, yaitu: (1) Religius,
(2) Jujur, (3) Toleransi, (4) Disiplin, (5) Kerja keras, (6)Kreatif, (7) Mandiri,
(8)Demokratis, (9) Rasa Ingin Tahu, (10) Semangat Kebangsaan, (11) Cinta Tanah
Air, (12) Menghargai Prestasi, (13) Bersahabat/Komunikatif, (14) Cinta Damai,
(15) Gemar Membaca,(16) Peduli Lingkungan, (17) Peduli Sosial, & (18)
Tanggung Jawab (Puskurbuk, 2011: 3)
Penyelenggaraan pendidikan
karakter menjadi satu hal yang multlak dilakukan di jenjang pendidikan manapun,
khususnya di jenjang pendidikan dasar. Hal ini sangat beralasan karena
pendidikan dasar adalah pondasi utama bagi tumbuh kembang generasi muda
Indonesia. Pemahaman yang mendalam dari praktisi pendidikan, bagaimana
implementasinya dan kemungkinan pengembangan pendidikan karakter ke depan
Pembahasan
Pendidikan karakter
merupakan salah satu upaya untuk mewujudkantujuan pendidikan nasional
sebagaimana yang telah dijelaskan sehingga sekolahsebagai wadah pendidikan
sudah seharusnya memperhatikan pelaksanaan pendidikan karakter guna pembinaan terhadap perilaku (attitude)
peserta didik.Melaksanakan pendidikan karakter berarti membiasakan sekolah
untukmenciptakan kondisi yang nyaman untuk mengembangkan perilaku seluruh
wargadi sekolah sesuai dengan 18 nilai karakter bangsa yang ada.
Pemahaman Guru tentang Konsep Pendidikan
Karakter
Guru merupakan salah satu
faktor penentu dalam keberhasilan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah sehingga diperlukan pemahaman yang baiktentang
konsep dari pendidikan karakter. Sesuai hasil wawancara dengan guru-guru
diketahui bahwa konsep pendidikan karakter belum dipahami oleh semuaguru di
sekolah sebab masih ada guru yang belum memberikan penjelasan
akan pengertian pendidikan karakter yang sesuai. Hal tersebut menyebabkan sekolah belum sepenuhnya mengembangkan nilai-nilai karakter peserta didiknya dalam
proses pembelajaran di kelas. Di kelas guru melakukan pembiasaan
selalu berdo’asebelum dan sesudah belajar, melaksanakan piket kebersihan
di kelas, sertamemintaizin saat keluar/masuk kelas. Akan tetapi, guru
kurang mengembangkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran padahal salah satu strategimengembangkan
pendidikan karakter adalah dengan mengintegrasikan nilai-nilaikarakter bangsa
pada setiap mata pelajaran sehingga menghasilkan peserta didikyang konsisten
dalam perilaku berkarakter di kehidupannya sehari-hari.Pendidikan karakter
merupakan salah satu upaya yang harus dilaksanakansekolah untuk membina moral
serta akhlak yang sesuai dengan norma dan nilai-nilai dari Tuhan YME.
Pendidikan karakter dilaksanakan sebagai bentuk penempaan terhadap sikap peserta didik sebagai anak bangsa sehingga denganadanya
pembinaan karakter bagi peserta didik akan mampu membentuk bangsayang tangguh
serta mampu berkompetisi sehat di era globalisasi. Dari 10 informanguru yang
diwawancarai mengenai konsep pendidikan karakter, ditemukan 6 gurusudah
memahami, 3 guru mulai memahami, dan 1 guru belum memahami
konsep pendidikan karakter
Nilai Karakter yang Diutamakan
Pelaksanaannya
Nilai karakter yang dilaksanakan di sekolah dikembangkan melalui pembiasaan-pembiasaan terhadap peserta didik dalam berperilaku. Nilai karakteryang
mulai dikembangkan melalui pembiasaan sikap di sekolah yaitu:
Siswa berdo’a sebelum dan sesudah belajar, memberikan salam, serta meminta izinkeluar/masuk
kelas sebagai implementasi nilai religius; Siswa melaksanakan tugas piket kebersihan kelas, menanami/merawat tanaman yang ada di sekitar kelas,serta
melaksanakan kegiatan kerja bakti setiap hari jum’at sebagai perwujudannilai
peduli lingkungan; serta Siswa melaksanakan upacara bendera setiap harisenin,
serta menyanyi-kan lagu nasional sebagai implementasi nilai
semangatkebangsaan.Di sekolah juga mulai ada pengkondisian meskipun
pelaksanaannya belumsesuai dengan indikator nilai karakter bangsa yang ada.
Pengkondisian yangdilaksanakan di sekolah yaitu: Menyediakan tempat pembuangan
sampah organikdan anorganik di setiap kelas; Memberikan sumbangan sembako
kepada parakorban bencana alam yang ada di sekitarnya, serta mengunjungi teman
yang sakit;serta Menyediakan buku ramadhan untuk peserta didik, serta merayakan
hari-hari besar keagamaan dengan berdzikir bersama di Masjid dekat
sekolah.Kegiatan spontan juga dilaksanakan di sekolah oleh guru dan peserta
didikyaitu guru langsung menegur peserta didik saat melakukan kesalahan, dan
antarasesama peserta didik terkadang saling menegur jika ada teman lainnnya
yangmelakukan perbuatan tidak terpuji.
Di sekolah nilai-nilai
pendidikan karakter yang muncul belum mencapaiindikator keberhasilan yang ada
sehingga harus ditingkatkan pembinaannyaterhadap para peserta didik. Masalah
yang sering dihadapi disekolah yaitu siswa belum memiliki sikap disiplin sebab ada peserta didik yang memakai seragam
tidak rapi didalam kelas, serta peserta didik dan guru masih ada yang dating terlambat
ke sekolah. Hal tersebut terjadi karena belum ada sanksi yang tegas diberikan
kepada para pelanggar sehingga harus diberikan bimbingan serta peringatan
agar pelanggar malu untuk mengulangi kesalahannya.
Penunjang yang Dibutuhkan
Sekolah untuk Pelaksanaan Pendidikan Karakter.
Keberhasilan pelaksanaan
pendidikan karakter di sekolah tidak dapat dipisahkan dari ketersediaan
prasarana/sarana penunjang yang digunakan untuk mengembangkan nilai-nilai
pendidikan karakter kepada peserta didik. Di sekolah ada beberapa
prasarana/sarana yang harus diperbaiki dan disediakan sehingga peserta didik dapat secara langsung mempraktekkan perilaku sesuai denganin
dikator keberhasilan yang ada dalam pendidikan karakter. Kondisi
sarana penunjang di sekolah belum sesuai dengan nilai pendidikan karakter yang ingin
dikembangkan kepada peserta didik. Nilai religius di sekolah masih membutuhkan Mushalla
untuk mendukung kegiatan yang dilakukan dalam pengembangan nilaikarakter.
Sekolah memang memiliki ruang kelas yang dapat difungsikan
sebagai pengganti mushalla namun ruangan tersebut dirasakan kurang maksimal untuk
melaksanakan kegiatan keagamaan sehingga terkadang menggunakan masjid dekat
sekolah saat merayakan hari-hari besar keagamaan.Sarana yang dibutuhkan untuk
membantu pengembangan nilai jujur yaitutersedianya kantin kejujuran, kotak
saran dan pengaduan, serta tempat temuan barang hilang. Untuk tempat temuan barang hilang meskipun guru sudahmemfasilitasi
untuk mengumpulkan barang temuan dari peserta didik namun haltersebut dirasakan
kurang maksimal sebab terkadang guru tidak sempat menginformasikan barang
temuan tersebut. Sarana untuk pengembangan nilai jujur tersebut sangat dibutuhkan sekolah sebagai bentuk pengkondisian untuk
menciptakan suasana sekolah yang jujur, sehingga diharapkan seluruh warga sekolah
akan merasa malu jika tidak bersikap jujur. Pengembangan nilai kreatif di
sekolah membutuhkan ruangan yang dapat dijadikan wadah bagi peserta didik untuk
mengekspresikan dirinya dengan bebas sesuai dengan bakat dan minat seni yang
dimiliki. Di sekolah ada bimbingan senitarian daerah yang diberikan kepada
peserta didik hanya saja bimbingan tersebut belum dapat terlaksana dengan maksimal dan baik sebab belum tersedianya
ruangan serta alat-alat kesenian yang mendukung kegiatan tersebut.
silitas penunjang yang telah
dijelaskan sangat berperan penting untuk mengembangkan nilai-nilai pendidikan
karakter di sekolah. Sesuai dengan yang disebutkan dalam Pedoman
Penyelenggaraan Sekolah Standar Nasional untuk SD,dijelaskan satandar
prasarana pendidikan mencakup persyaratan minimal danwajib dimiliki oleh setiap satuan
pendidikan adalah lahan, ruang kelas,
ruangkepala sekolah, ruang pendidik, ruang tata usaha, ruang perpustakaan,
ruang laboratorium, ruang bengkel kerja, ruang unit produksi, ruang kantin,
instalasi dan jasa, tempat berolahraga, tempat beribadah, tempat bermain,
tempat berkreasi, dan ruang/tempat lain yang diperlukan untuk menunjang proses
pembelajaran yang teratur dan berkelanjutan. Kemudian standar sarana pendidikan
mencakup persyaratan minimal tentang perabot, peralatan pendidikan, media pendidikan, buku
dan sumber belajar lainnya, bahan habis pakai, serta
perlengkapan lain yang diperlukan untuk menunjang proses pembelajaran.
Melalui penyediaan sarana-sarana penunjang maka akan tercipta suasana sekolah
yang kondusif dan sesuaiuntuk pelaksanaan pendidikan karakter
KESIMPULAN DAN SARAN
konsep pendidikan karakter. nilai yang sangat dibutuhkan di sekolah yaitu: nilai jujur,menghargai
prestasi, kerja keras, tanggung jawab, cinta tanah air, kreatif,
disiplin,gemar membaca, rasa ingin tahu.
Pelaksanaan nilai peduli lingkungan sebenarnya sudah ada di sekolah hanya saja
peserta didik masih ada yang membuang sampah sembarangan, hal tersebut sangat
mengganggu kebersihan dilingkungan sekolah.Sekolah masih membutuhkan penyediaan
sarana yang memadai agar pendidikan karakter dapat dilaksanakan dengan
baik.Untuk meningkatkan pelaksanaan pendidikan karakter di sekolah maka sebaiknya
semua guru diberikan pelatihan dan pembinaan dalam
mengembangkan pendidikan karakter di sekolah. Pihak sekolah sebaiknya mengadakan kerjasama
dan relasi yang baik dengan orang tua murid dalam mengembangkan nilai karakter
sehingga pendidikan karakter anak dapat dibina bukan hanya di sekolah tetapi
juga di rumah. Penyediaan sarana yang memadai harus didampingi oleh tatatertib
serta sanksi yang diberikan sekolah kepada yang melanggar sehingga semua warga
sekolah akan merasa jera dan tidak akan mengulangi kesalahannya. Hal tersebut
dimaksudkan agar pendidikan karakter dapat berkembang dengan baik disekolah.
Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter diSekolah.
Jogjakarta: DIVA
PressBungin, B. 2003.
Analisis Data Penelitian Kualitatif: Pemahaman filosofisdan
Metodologis ke Arah Penguasaan Model Aplikasi
. Jakarta: RajaGrafindo
Persada.Junaidi, W.2010.
DAFTAR
PUSTAKA
AntaraNews.2011.Mendiknas: Penerapan Pendidikan Karakter DimulaiSD
Prasetyo, A dan Rivasintha E
2010 Konsep, Urgensi, dan Implementasi Pendidikan
Karakter di Sekolah
,Asmani, Jamal
Ma’mur. 2011. Buku Panduan Internalisasi Pendidikan Karakter di Sekolah.
Jogjakarta: DIVA Press. Albertus, D.K. 2007.
Pendidikan Karakter: Strategi
Mendidik Anak di Zaman Global. Jakarta: Grasindo. Antara News. 2011. Mendiknas:
Penerapan Pendidikan Karakter Dimulai SD, (Online). (http:
//www.antaranews.com, diakses 10 Desember 2011).
Hidayat, T. 2011. Pentingnya
Pendidikan Karakter di Sekolah Dasar di Indonesia, (Online).
(www.vanillamist.com. diakses 10 Desember 2011) Miles, M.B, & Huberman,
A.M. 1992. Analisis Data Kualitatif. Terjemahan oleh Tjetjep Rohendi R.
Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.
Prasetyo, A., dan Rivasintha, E. 2010.
Konsep, Urgensi, dan Implementasi Pendidikan Karakter di Sekolah, (Online).
(http://edukasi. kompasiana.com, diakses 10 Desember 2011).
Sulhan, Najib.
2011. Pendidikan Berbasis Karakter. Surabaya: PT Jepe Pres Media Utama (Jawa
Pos Grup). Usman H.B, dkk. 2003. Pedoman Penyusunan dan Penilaian Karya Ilmiah.
Palu: Penerbit Universitas Tadulako.